tidak menyangka weekend kemaren adalah weekend kelabu bagi saya, teman2 civitas akademia saya, dosen, dekan, rektor, senat, keluarga mahasiswa
padahal weekend kemaren saya baru mengikuti pelantikan himpunan saya juga bersamaan dengan geodesi, tp terpisah cukup jauh kira2 10-20km dengan geodesi
berita2 dr teman, bahwa beberapa hari ke depan bakal ada sesuatu yang besar di kampus, yang tentunya berkaitan dengan musibah ini
entah banyak atau bahkan tidak ada yang bisa disalahkan dalam musibah ini
bisa aja kan si korban ga jujur kalo dia punya sakit
kalo di himpunan gw, setiap yang sakit wajib nulis di name tag, beberapa minggu sebelum acara akhir dilakukan medical check up dibantu tim medis dari unpad, pada saat di lapangan juga selain di name tag kita juga memberi pita2 tertentu sesuai berat ringannya penyakit
di himpunan gw jg sama sekali ga ada kekerasan (fisik) tidak ada tampar2an (bahkan gw sebagai swasta, wilayah yg rawan kekerasan fisik) apalagi pukul2an, paling pushup
juga setiap kali sering kita bentak2 agar jangan bengong di hutan, supaya ga kerasukan, tanya apakah kedinginan, kasih makan, dicampur brotowali buat obat masuk angin
gatau deh apa yang dilakukan geodesi atau apa yang anak itu sembunyikan sehingga musibah itu bisa terjadi, juga rektorat yang tampaknya berusaha mencuci tangan, gw blum pernah ngeliat rektorat turun ke himpunan2, ngedatengin satu2, ngedampingin satu2, ato dateng ikut ke acara ospek, ospek itu sendiri adalah sesuatu yang sangat2 sulit dihilangkan, hal yang paling mungkin adalah merubah caranya
at least gw ga mau komentar banyak, ntar malah spekulasi dan mengacaukan keadaan, tunggu kepastian ajalah
(emang kepastian bakal dateng?? orang kepastian kenapa anak plano diculik juga ga jelas)
bisa jadi korban gak mau cerita. karena introverted?
siapa yang tahu?
ATAS NAMA PENDIDIKAN
Putih kapas dapat dilihat, putih hati berkeadaan. Demikianlah keadaanku kini, terbujur kaku di pusaran pembaringan dengan taburan do’a di atasnya. Ya.. memang… aku telah mati!! aku harap… Janganlah engkau terkejut karenanya… aku adalah mayat korban kekerasan atas nama pendidikan.
Tahun 2008… aku putuskan untuk memulai perjalanan panjangku. Teknik Geodesi ITB menjadi pijakan utamaku. ITB.. salah satu Universitas besar… Impianku, ku mulai dari sana.
Berjuta harapan dan terpaung jelas di kampus itu, menjadi orang besar di Indonesia… Menjadi orang berguna. Tujuanku satu, dapat mengarungi maghligai bahagia di masa mendatang.
Setelah beberapa lama…
Rencana tinggalah rencana. Semua sia-sia belaka… Kala ku tahu kekerasan menjadi legalitas disana. Dengan sangat terpaksa, satu persatu mimpi indahku terpaksa ku tanggalkan. Mimpiku membuatku terluka. Mimpiku membuat aku menderita. Aku kecewa… kecewa… sungguh kecewa…
Di ITB, aku hanyalah sansak hidup yang berada dalam arena tinju pendidikan Universitas. Mereka bebas menamparku, meraka bebas menginjakku, mereka bebas memukulku, mereka meludahiku… mereka bebas melakukan kekerasan… semua demi nama pendidikan…
Feb 2009… dengan berat hati, aku mengakhiri perjalananku. Ku tutup mataku… Ku hembuskan nafas terakhirku… Karena pendidikan mengajarkan kekarasan.
sumber:http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com/
ATAS NAMA PENDIDIKAN
Putih kapas dapat dilihat, putih hati berkeadaan. Demikianlah keadaanku kini, terbujur kaku di pusaran pembaringan dengan taburan do’a di atasnya. Ya.. memang… aku telah mati!! aku harap… Janganlah engkau terkejut karenanya… aku adalah mayat korban kekerasan atas nama pendidikan.
Tahun 2008… aku putuskan untuk memulai perjalanan panjangku. Teknik Geodesi ITB menjadi pijakan utamaku. ITB.. salah satu Universitas besar… Impianku, ku mulai dari sana.
Berjuta harapan dan terpaung jelas di kampus itu, menjadi orang besar di Indonesia… Menjadi orang berguna. Tujuanku satu, dapat mengarungi maghligai bahagia di masa mendatang.
Setelah beberapa lama…
Rencana tinggalah rencana. Semua sia-sia belaka… Kala ku tahu kekerasan menjadi legalitas disana. Dengan sangat terpaksa, satu persatu mimpi indahku terpaksa ku tanggalkan. Mimpiku membuatku terluka. Mimpiku membuat aku menderita. Aku kecewa… kecewa… sungguh kecewa…
Di ITB, aku hanyalah sansak hidup yang berada dalam arena tinju pendidikan Universitas. Mereka bebas menamparku, meraka bebas menginjakku, mereka bebas memukulku, mereka meludahiku… mereka bebas melakukan kekerasan… semua demi nama pendidikan…
Feb 2009… dengan berat hati, aku mengakhiri perjalananku. Ku tutup mataku… Ku hembuskan nafas terakhirku… Karena pendidikan mengajarkan kekarasan.