okeh, setelah sampai di atas tebing, dan berfoto bersama, kita menuju ke lokasi, hmm gw pikir udah deket, ternyata kita masih setengah perjalanan lagi, kira-kira 1 jam jalan kaki, jalan kakinya tentu saja lambat, tidak seperti di aspal, selain harus membawa beban yang paling ringan bisa 15 kilogram, medannya kali ini berbeda, kita memasuki daerah hutan lebat, lokasi dimana pernah terjadi beberapa mahasiswa hilang dan meninggal karena kedinginan dan salah satu titik yang kita tuju adalah titik dimana pernah terjadi kecelakaan pesawat baling-baling maskapai penerbangan merpati tahun 1993 dengan pilot farida, masih ingat?
nah sebelum kita masuk ke hutan, istirahat dulu di tepi “jalan”, jalan ini menghubungkan papandayan dengan perkebunan santosa lalu ke malabar dulunya, biasa digunakan pekerja perkebunan dan biasanya dilaui motor trail yang nekat memanjat tebing tadi, dulu sebelum letusan tahun 2002 jalan ini bisa dilalui jeep, tp setelah letusan dan longsor, hubungan terputus, ditandai merah pada foto dibawah ini

di foto dari kiri ke kanan ada arih, geofisika UGM 2003, DR.Djedi S Widarto, dan gw sendiri, yah itulah jalan yang putus
setelah itu kita masuk hutan, dibagi 2 tim, gw dengan pak suyatno yang dengan cepat kita akrab
gw masuk hutan dengan 1 orang topografi, yang tahu medan dan pembuka jalan, masuk hutanlah kita semua rombongan, tapi karena naluri gw adalah orang yang penasaran dan hiperaktif maka gw ga bakal ninggalin si orang topografi seberapa pun cepatnya dia berjalan meninggalkan seluruh kru, dan entah kenapa pak jedi, ikut cepet sama gw, akhirnya kita berdua setengah berlari megikuti si orang topo, karena hari pertama dan rencananya gw ga ikut nginep dan pak jedi tidak ikut pengukuran maka kami berdua membawa beban seadanya, jadi bisa lebih cepat, rombongan tertinggal jauh ketika kami sudah 1 jam berjalan tiba-tiba orang topo berhenti, lalu berbalik dan bilang kepada kami, bahwa KITA TERSESAT!!!!!
euh gimana nih orang topo, lalu dia berkata supaya kita diam di tempat dia akan mencari jalan yang benar, nasib… lalu gw tinggal berdua dengan pak jedi, ngobrol ngalor ngidul, ditawari roti oleh pak jedi, kita makan berdua, lalu setelah makan, pak jedi resah ingin mencari teman-teman yang lain, bayangkan! di tengah hutan lebat cuma berdua jauh darimana2!! begitu pak jedi beranjak akan menyusul teman-temannya saya langsung mencegahnya, insting dan pikiran saya mengatakan kita tidak tahu daerah dan jika kita bergerak sedikit saja bisa-bisa kita hilang tak tentu arah, dengan keyakinan mereka akan datang maka saya berusaha meyakinkan pak jedi untuk menunggu, alhamdulillah beliau mau, setelah 1 jam menunggu, terdengar teriakan dari jauh, dan gw langsung membalasnya, makin lama orang-orang yang dinanti makin dekat, para pekerja, operator tim dan orang topo akhirnya datang, dan kita melewati persimpangan yang seharusnya sejauh setengah jam, pantas saja. pekerja lokal berasal dari daerah kaki gunung papandayan, mereka berkata jangan macam-macam disini, sudah banyak orang hilang disini, jarang yang memasuki hutan ini, yang memasukinya katanya pun cuma orang yang “geus kolot, geus boga pangalaman”
oke, akhirnya setelah menyusur, sampai pada titik pertama, pekerja lokal sigap membabat area seluas 10×10 untk keperluan tenda, dan instalasi peralatan diarahkan oleh pak jedi langsung dan instalasi software juga langsung diarahkan. siap pengukuran kita mencoba menerapkan beberapa gain yang berbeda, untuk menghindari noise yang berlebihan. setelah dirasa mantap akhirnya pak jedi dan 3 orang pekerja lokal (2 shift, dari 7 orang) turun ke bawah, bergantian suplai makanan, aki, dan lain-lain. hari ini 3 orang, besok 4 orang, kami kebagian 8 titik, tetapi ada 1 titik yang dirasa gagal karena angka data error yang cukup besar karena ada hujan dan petir, maka kami mengulang di titik tersebut.
pada malam pertama, pada titik 1 suatu subuh kira-kira jam 4 an, si arie, yang tidur di sebelah gw tiba-tiba loncat menggulingi gw, gw pikir ini anak homo, tp ternyata besoknya dia bercerita ada babi hutan (atau entah apa) mengendus2 pinggir tenda dan napasnya kedengaran keras dan hangat….HIIIIIIIIIII!!!!!
lalu pada suatu titik, dimana letaknya di lereng gunung puntang (2600mdpl) titik paling ujung ini kata pekerja sangat dekat denga lokasi jatuhnya pesawat merpati, pada saat evakuasi tidak semua korban ditemukan, hanya sebagian dan tidak ada yang selamat, beberapa dari mereka ada yang ikut evakuasi mengangkut mayat-mayat dengan kondisi mengenaskan. hal ini membuat 2 shift memaksa digabung, agar lebih banyak orang, mereka rupanya sangat ketakutan, hal ini terdengar dari lantunan ayat suci alqur’an malam-malam, hal yang tidak pernah mereka lantunkan pada malam-malam sebelumnya, oh salah
ada satu lagi malam yang aneh, di suatu titik, pada tengah malam mereka mendengar bunyi orang ketawa atau meringkik, bunyinya seperti kuntilanak kata mereka, kadang seperti kuda, kadang seperti tangisan, terdengar jauh tetapi sangat jelas. mereka sangat ketakutan, dan berharap tidak ada pengukuran lagi, tetapi saya dan pak suyatno bertekad melanjutkan, setan apapun yang keluar, karena kami tidak takut setan!!!!
ohya ada hal menarik, 2 orang yang saya sangat senangi, pak suyatno, operator dari lipi, saya merasa setiap hari dia bersifat sangat kebapakan kepada saya, jadi saya merasa dianggap anak oleh beliau selain oleh pak jedi, saya berbuat sesuatu kenakalan, saya telah mengajari beliau merokok, maafkan saya pak, saya juga hanya di lapangan. itupun karena kedinginan
satu lagi, pekerja lokal, asli purbalingga namanya mas dirin, beliau orangnya sangat baik, alim dan beda dengan pekerja lainnya, solat selalu tepat waktu dan dia yang sering mengaji, beliau sangat peduli terhadap pendidikan anaknya, sehingga dalam keadaan apapun bertekad mendidik anaknya sampai setingg2nya, “kalau diizinkan Allah sih sampai perguruan tinggi” amin mas!

yang diatas gw sama mas dirin lagi masang koil magnetik komponen vertikal yang ditanam sedalam 1.3 meter, yang jaket biru, mang ayi, si tukang ngutil perbekalan kita,hihih ada aja orang iseng kaya gitu, ngutil2 makanan

gambar diatas adalah titik pengukuran terkhir dimana pak Eddy, orang lipi juga, bisa naik ke atas membawa kamera, ini medan paling ringan dari seluruh medan pengukuran yang kita lalui, yang namanya parah, ya parah banget sampe bertenda di lereng dengan kemiringan sampai 30-40 derajat!! dan naik turun tanjakan dengan menggunakan tali, jaket lapangan HMGM penuh dengan darah sudah biasa, terpeleset sudah berkali-kali, tapi jangan pernah menyerah
akhirnya kita pulang dengan selamat dan terakhir makan di restoran sunda all you can eat (ambil seenaknya karena dibebaskan sama bos (pak jedi dan pak eddy) mau ngambil apa aja, hehehehe