Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2011

ini saya salin dan tempel dari email teman saya di kantor, silahkan diresapi, terutama terkait dengan penyalahgunaan wewenang oleh penguasa 🙂

Salam,

Hanif WN

———————————————————

Barangkali ada yang belum pernah baca.

Salam,
RiFa TeA
—–
SELAMAT PAGI TEMAN2,

Bagi rekan-rekan yang berasal dari Jawa terutama yang seumuran AAK dan Pre-Aak mungkin tidak asing lagi dengan lagu Gundul-2 Pacul yang biasa kita nyanyikan sewaktu kita ngumpul-2 dengan rekan-2 baik di lingkungan rumah maupun

disekolahan. Liriknya adalah demikian :
“Gundul gundul pacul-cul,gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…

Tembang Jawa ini diciptakan tahun 1400 an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.

Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Sedangkan pacul:adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat.

Pacul:adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.
Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).Artinya
bahwa:kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yaitu:
bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan:

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat.

Tetapi dia malah:
1. menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya.
2. Menggunakan kedudukannya untuk. berbangga-bangga di antara manusia.
3. Dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

Nyunggi wakul, gembelengan. Nyunggi wakul artinya:
membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya.Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya.

Wakul adalah:simbol kesejahteraan rakyat. Kekayaan negara, sumberdaya, Pajak adalah isinya. Artinya bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat.

Kedudukannya di bawah bakul rakyat. Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul?

Tentu saja pemilik bakul. Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Dan banyak pemimpin yang masih gembelengan (melenggak lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main). Akibatnya; Wakul ngglimpang segane dadi sak latar Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.

Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat..

Semoga kita jadi pribadi yang memiliki integritas sehingga siap menjadi suri tauladan dimanapun kita berada

Have a Great Day

Read Full Post »

“Jauhar,” Sutan Sinaro mencoba memahami jalan pikiran anak muda itu. “Bukankah semua perniagaan itu bisa beruntung tetapi juga bisa merugi?”

“Ya, bisa beruntung, bisa merugi,” jawab Jauhar

“Sekarang, maukah engkau kutunjukkan perniagaan yang tidak akan pernah rugi selamanya?” tanya Sutan Sinaro

“Perniagaan yang tidak pernah rugi?” Jauhar baru pertama mendengar hal itu. “Apa ada perniagaan yang tidak pernah rugi, seperti kata Angku itu?”

“Ada. Perdagangan dan perniagaan dengan Allah. Itulah tijaratan lan tabuur. Perniagaan yang tidak akan pernah merugi.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?” QS 9:111

diambil dari halaman 275-276, novel Bidadari Paderi karya Saiful Ardi Imam, penerbit Republika 2007.

Read Full Post »