Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2013

2013, beberapa kabar buruk menghampiri saya, rusaknya alam semeru, dan tingkat penurunan populasi edelweiss (Anaphalis Javanica) yang mengkhawatirkan di alun-alun suryakencana dan beberapa gunung lain di indonesia. Hal ini sangat mengusik pikiran saya untuk menulis sebuah tulisan tentang sumbangsih kita demi kelestarian alam.

Mungkin entah karena banyaknya promosi tentang kegiatan alam bebas terutama pendakian gunung baik lewat jambore, film (if you know what i mean), gathering, dan lain sebagainya yang tanpa panduan dasar konservasi yang baik, beberapa kabar buruk tersebut menghampiri kita. Seperti kata mendiang Norman Edwin, “mau kemana pecinta alam indonesia?”.

Banyak yang terbius, euforia, memetik edelweiss sebagai lambang (semu) keabadian cinta (“mendingan lu pada nikah sana, biar tau apa arti kasih sayang” _Basuki T. Purnama (Ahok), 2013.), MENAKLUKAN gunung sebagai simbol kegagahan dan kejantanan, memamerkan cerita dan blablablabla.

Lupakah kita pada kata-kata mendiang Idhan Lubis :

” Aku tidak pernah berniat menaklukan gunung!
Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdian…
… pengabdianku kepada Yang Maha Kuasa! ”
Idhan Lubis, 10 Maret 1969

Ya, mendaki gunung adalah pengabdian kepada Yang Maha Kuasa! oleh karena itu wajib ada suatu pemahaman dasar pada pribadi-pribadi yang akan melakukan pendakian. Saya tidak akan mengurai berbagai macam teori, tetapi lebih kepada pengalaman saya mblasak-mblusuk alam bebas sebagai newbie. Saya juga tidak akan banyak membahas tentang persiapan peralatan, dan fisik karena sudah banyak di mesin pencarian dunia maya.

Here we come! :

Konservasi, apa itu?

http://www.belantaraindonesia.org/2012/12/mengenal-konservasi-alam.html

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

1. Konservasi adalah menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama ( American Dictionary ).

2. Konservasi adalah alokasi sumber daya alam antar waktu ( generasi ) yang optimal secara sosial ( Randall, 1982 ).

3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan ( IUCN, 1968 ).

4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi – generasi yang akan datang ( WCS, 1980 ). Royal Essays

Kata kuncinya adalah pengelolaan, terbarukan, optimalisasi, pemeliharaan.

Ya, konservasi adalah pemeliharaan, dalam hal pendakian, sejauh mana kah kepedulian kita pada sebuah usaha pemeliharaan alam?

Dalam sebuah pendakian, saya menemukan semak beri hutan https://i0.wp.com/www.ars.usda.gov/images/docs/15552_15746/wild4web.jpg

Dasar saya masih bodoh, beri-beri tersebut saya ambil dengan tamak, jadikan cemilan sepanjang perjalanan, di suatu malam saya berpikir, ini adalah sebuah intervensi jahat saya terhadap rantai makanan, jika saya setamak ini dan pendaki-pendaki lain mempunyai pemikiran yang sama dengan saya, berapa banyak beri hutan yang akan habis? apa yang akan kita sisakan pada burung-burung liar? jika burung-burung tersebut makin berkurang jumlahnya akibat makanan mereka yang kita rampas, hal ini jelas akan merusak keseimbangan alam liar! jumlah hewan lain pun secara berantai akan berkurang! maka selepas peristiwa tersebut, saya ingin mengkampanyekan makanlah apa yang kita bawa, jangan sampai kita tamak merampas makanan penghuni alam bebas tersebut, kecuali kita dalam keadaan kehabisan makanan dan darurat tentunya.

Hal yang sama berlaku untuk edelweiss, cantigi, dan lain-lain, apa kita akan mewarisi edelweiss hanya lewat gambar kepada anak cucu kita? bukankah ia lebih cantik berada di tempatnya? seringkali kita berjalan tidak melihat bibit-bibit edelweiss yang kecil-kecil, sehingga terinjak oleh sepatu-sepatu gagah kita, mereka tidak kita beri kesempatan hidup oleh kelengahan kita. begitu pula dalam mendirikan tenda, usahakan dirikan tenda pada saat masih terang sehingga kita masih sempat meneliti apakah tenda kita menindih dan merusak bibit-bibit edelweiss yang punya hak hidup sama dengan kita.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,

Pasal 21

(1) Setiap orang dilarang untuk :

a. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan
memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau
mati;

b. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati
dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,

KETENTUAN PIDANA

Pasal 40

(1) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

(2) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(3) Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

https://i1.wp.com/p.twimg.com/ArpnWgjCMAAowPK.jpg:large

Begitu pula dengan cantigi, pendaki yang kedinginan kerap menebang kayunya hanya untuk menikmati kehangatan melalui api unggun, banyak pendaki yang berpikiran seperti itu sehingga sangat berbahaya untuk keberlansungan tumbuhan cantik ini.

https://hanifprincestrat.files.wordpress.com/2013/02/cantigi.jpg?w=300

Antisipasi kedinginan? ya bawalah jaket yang banyak, sleeping bag, tenda, selimut survival, dan kompor! ya kompor, saya dengan berhati-hati menyalakan kompor kecil di dalam tenda tertutup selama kurang lebih 5 menit untuk menghangatkan tenda, cukup untuk menghangatkan tubuh sebelum tidur. lakukanlah apapun yang bisa kita lakukan untuk alam.

Prinsip-prinsip konservasi sebenarnya mudah :

– Jangan tinggal apapun kecuali jejak

– Jangan ambil apapun kecuali gambar

– Jangan bunuh apapun kecuali waktu

Tanyakan kepada diri kita sendiri, apa kita rela jika danau sesuci dan sebersih ini tercemari sampah? sabun mandi? sabun cuci? sampo? buang air? sedang air dari danau ini ya itu-itu saja, terperangkap bertahun-tahun disana. akankah kita wariskan kepada teman-teman, anak-cucu kita air yang tercemar ke-masa-bodoh-an kita? masih berani kah kita egois akan ciptaan Tuhan secantik ini?

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/bd/Ranu_kumbolo.jpg

jangan pernah membawa sabun, deterjen dan bahan kimia sejenisnya ke alam bebas, kita bisa pakai hand sanitizer dan sejenisnya, selama melakukan pendakian semeru, selama 4 hari saya tidak buang air besar, jika ada teman yang tak tahan, maka saya menghimbau untuk menghindari sumber air, menghindari jalan setapak, menggali tanah untuk BAB dengan sekop kecil agar tak terinjak teman-teman kita yang lain. sayangilah alam, maka alam akan membalasmu dengan seribu kebaikan.

Sekarang mengenai sampah, terutama sampah plastik, prinsip utama adalah bawalah pulang kembali sampah yang kita hasilkan di alam liar! dengan ini jelas bahwa kita akan mengurangi sampah di gunung. sudah ada beberapa penggiat gunung bukan tempat sampah seperti kawan-kawan dari trashbagcommunity yang sangat concern terhadap usaha sterilisasi gunung dari sampah.

Tips lain untuk me-manage sampah dengan baik adalah sebelum pendakian hendaknya kita membeli kemasan sachet besar untuk minuman ketimbang sachet kecil yang akan menghasilkan banyak sampah. untuk misalnya mie instan atau makanan lain seperti biskuit/roti kita bisa membuka kemasannya dan menyatukannya dalam wadah besar yang bisa digunakan berulang-ulang seperti kotak makan. hindari membawa air minum wadah gelas yang juga dapat menghasilkan sampah yang banyak. bawalah botol minum besar, bisa 500-1500 liter, isi dari rumah.

Selain itu penulis berpesan agar segala sesuatu kita niatkan dengan baik, alam akan memberimu seribu kebaikan, niatkan pendakian hanya untuk pengabdian kepadaNya. bawa peralatan yang baik dan lengkap, jangan pernah meremehkan alam, lakukan manajemen rute, manajemen perbekalan, manajemen air, manajemen pengolahan makanan, manajemen sampah dan manajemen konservasi.

Tulisan ini adalah hutang kepada ‘bapak’ saya, teman saya, guru saya,

Don Hasman,

penjelajah dan fotografer legendaris dunia,

semoga tulisan ini mampu menyumbangkan sesuatu bagi teman-teman yang akan melakukan pendakian, kita masih sama-sama belajar, jangan pernah berhenti untuk belajar. ada link menarik tentang konservasi yang juga bisa dilihat di sini http://www.belantaraindonesia.org/search/label/konservasi

Read Full Post »

Maaf copas lagi, tp tulisan ini terlalu bagus untuk disimpan sendiri, enjoy :

Kiai Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang tadi siang diwisuda.

“Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat. Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap. Pada masa itu pula tak ada sesuatu pun dalam kehidupan yang dipuja orang melebihi kebudayaan barat sehingga terkadang ia melebihi Tuhan”.

“Ini kisah aneh apa lagi?” bertanya sang cucu.

“Kaum Muslim pada waktu itu sedang mencapai puncak semangatnya untuk memperjuangkan agamanya, menemukan identitas dan bentukan kebudayaannya sendiri”, si kakek melanjutkan, “akan dipandanglah kebudayaan barat itu oleh mereka dengan penuh rasa najis, serta dipakailah barang-barang kebudayaan barat itu dengan penuh rasa sayang dan kebanggan”.

“Lagi-lagi soal kemunafikan!”

“Tak penting benar soal kemunafikan itu dalam kisah ini”, jawab Kiai Sudrun,

“Setidak-tidaknya engkah sudah paham persis masalah itu, dan lagi yang hendak aku ceritakan kepadamu adalah soal lain”.

Sang cucu diam mendengarkan.

“Kaum Muslim pada waktu itu mempertentangkan Islam dengan kebudayaan barat seperti mempertentangkan cahaya dengan kegelapan atau malaikat dengan setan. Padahal sampai batas tertentu, para pelaku kebudayaan barat itu sendirilah yang dengan ketekunan amat tinggi melaksanakan ajaran Islam”.

“Kakek sembrono, ah”.

“Tak ada yang melebihi mereka dalam melaksanakan kewajiban Iqra’, meskipun kemudian disusul oleh sebagian bangsa-bangsa tetangganya. Tak ada yang melebihi mereka dalam kesungguhan menggali rahasia ilmu dan mengungkap kemampuan-kemampuan alam. Mereka telah membawa seluruh umat manusia memasuki keajaiban demi keajaiban. Mereka mengantarkan manusia untuk mencapai jarak tertentu dalam waktu satu jam sesudah pada abad sebelumnya mereka memerlukan perjalanan berbulan-bulan lamanya. Mereka mempersembahkan kepada telinga dan mata manusia berita dan pemandangan dari balik dunia yang berlangsung saat itu juga. Mereka telah memberi suluh kepada pengetahuan manusia untuk mengetahui yang lebih besar dari galaksi serta yang sejuta kali lebih lembut dari debu”.

“Dimuliakan Allahlah mereka”, sahut sang cucu.

“Benar”, jawab kakeknya, “kalau saja mereka meletakkan hasil Iqra’ itu di dalam kerangka bismi rabbikalladzi khalaq. Seandainya saja mereka mempersembahkan ilmu dan teknologi itu untuk menciptakan tata hidup yang menyembah Allah. Seandainya saja mereka merekayasa kedahsyatan itu tidak untuk penekanan dalam politik, pemerasan dalam ekonomi, sakit jiwa dalam kebudayaan, serta kemudian kebuntuan dan keterpencilan dalam peradaban”.

“Apa rupanya yang mereka lakukan?”

“Memelihara peperangan, mendirikan berhala yang tak mereka ketahui sebagai berhala, menumpuk barang-barang yang sesungguhnya tak mereka perlukan, pura-pura menyembah tuhan dan bersenggama dengan binatang”.

“Anjing kurap!” teriak sang cucu.

“Memang demikian sebagian dari Kaum Muslim, memaki-maki, tapi kebanyakan dari mereka bergabung menjadi pelaku dari pembangunan yang mengarah kepada kebudayaan yang semacam itu.”

“Munafik!” sang cucu berteriak lagi.

“Menjadi seperti kau inilah sebagian dari Kaum Muslim di masa itu. Dari sekian cakrawala ilmu anugerah Allah mereka mengembangkan satu saja, yakni kemampuan untuk mengutuk dan menghardik. Tetapi kemudian karena tak ada sesuatu pun yang berubah oleh kutukan dan hardikan, maka mereka pun pergi memencilkan diri; melarikan diri ke dalam hutan sunyi, mendirikan kampung-kampung sendiri — di pelosok belantara atau di dalam relung kejiwaan mereka sendiri. Mereka menjadi bala tentara yang lari terbirit-birit meninggalkan medan untuk menciptakan dunianya sendiri. Mereka ini mungkin kau sebut kerdil, tetapi sesungguhnya itu masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang lain yang selalu berteriak sinis “Kalian sok suci!” atau “Kami tak mau munafik!” sementara yang mereka lakukan sungguh-sungguh adalah kekufuran perilaku dan pilihan. Namun demikian tetaplah Allah Maha Besar dan Maha Adil, karena tetap pula di antara kedua kaum itu dikehendakiNya hamba-hamba yang mencoba merintis perlawanan di tengah medan perang. Mereka menatap ketertinggalan mereka dengan mata jernih. Mereka ber-iqra’, membaca keadaan, menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesanggupan mengolah sejarah, sambil diletakkannya semua itu dalam bismi rabbi. Ilmu ditimba dengan kesadaran dan ketakjuban Ilahiyah. Teknologi ditaruh sebagai batu-bata kebudayaan yang bersujud kepada Allah”.

“Maka lahirlah makhluk baru di dalam diri Kaum Muslim”, berkata Kiai Sudrun selanjutnya, “Gerakan intelektual. Orang dari luar menyebutnya intelektualisme-transendental atau intelektualisme-religius, meskipun Kaum Muslim sendiri menyebutnya gerakan intelektual — itu saja — sebab intelektualitas dan intelektualisme Islam pastilah religius dan transendental”.

“Dongeng kakek menjadi kering….” sahut sang cucu.

“Itu iqra’ namanya. Gerakan iqra’ yang ketiga sesudah yang dilakukan oleh Muhammad dan kemudian para ilmuwan Islam yang kau ketahui menjadi sumber pengembangan kebudayaan barat”.

Sang cucu tak memrotes lagi.

“Akan tetapi mereka, Kaum Muslim itu, adalah — kata Tuhan — orang-orang yang berselimut. Mudatstsirun. Orang-orang yang hidupnya diselimuti oleh berbagai kekuatan tak bismi rabbi dari luar dan dari dalam diri mereka sendiri. Selimut itu membuat tubuh mereka terbungkus dan tak leluasa, membuat kaki dan tangan mereka sukar bergerak, serta membuat hidung mereka tak bisa bernafas dengan lega.”

Sang cucu tersenyum.

“Kepada manusia dalam keadaan terselimut itulah Allah berfirman qum! Berdirilah. Tegaklah. Mandirilah. Lepaskan diri dari ketergantungan dan ketertindihan. Untuk tiba ke tahap mandiri, seseorang harus keluar terlebih dahulu dari selimut. Ia tak akan bisa berdiri sendiri bila terus saja membiarkan diri terbungkus kaki tangannya serta terbungkam mulutnya.”

Sang cucu tersenyum lebih lebar.

“Firman berikutnya adalah fa-andzir! Berilah peringatan. Lontarkan kritik, teguran, saran, anjuran. Ciptakan kekuatan untuk mengontrol segala sesuatu yang wajib dikontrol.” Sampai di sini Kiai Sudrun tiba-tiba tertawa cekikikan, “Syarat untuk sanggup memberi peringatan ialah kemampuan untuk mandiri. Syarat untuk mandiri ialah terlebih dahulu keluar dari selimut. Namun pada masa itu, cucuku, betapa banyak nenek moyangmu yang tak memperhatikan syarat ini. Mereka melawan kekuasaan padahal belum bisa berdiri tegak. Mereka mencoba berdiri padahal masih terbungkus dalam selimut….” Tertawa Kiai Sudrun makin menjadi-jadi.

Disusul kemudian oleh suara tertawa cucunya, “Kakek luar biasa!” katanya, “Kakek memang cerdas luar biasa!”

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Sudrun di tengah derai tawanya.

“Kakek menirukan hampir persis segala yang kuceritakan kepada kakek tadi malam dari buku-buku kuliahku”.

Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

1987 Emha Ainun Nadjib

Read Full Post »