Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2009

bedroom musician

akhirnya bisa menulis lagi semenjak wordpress saya tidak bisa di-akses dari kampus

ok ok, sekarang sebenarnya saya mau latihan, buat presentasi saya di presenticcon, diajak oleh teman saya di rileks.comlabs.itb.ac.id, setengah memaksa kayanya, hehehehe sampai disediakan satu tempat kosong, yang kebetulan saya juga penasaran ingin mencoba presentasi juga. info lebih lengkap ada disini

langsung saja, semua bahasan yang akan saya kemukakan disini adalah opini pribadi, topik yang akan saya presentasikan adalah bedroom musician

apakah itu bedroom musician?

secara bahasa, bedroom musician adalah musisi kamar tidur dan bedroom music adalah musik kamar tidur

istilah ini akrab dengan kamar tidur, mengapa?

saya akan cerita sedikit, berdasarkan pengalaman saya yang indekos di bandung, hampir semuanya memiliki komputer atau laptop di kamar kosannya dan semua kegiatannya termasuk kegiatan dengan komputer tersebut dilakukan di kamar, sebagian dari mereka tentunya menyenangi musik atau bahkan adalah pemain musik, termasuk membuat lagu, setelah perangkat lunak FruityLoops muncul (mulai hangat dibicarakan sekitar tahun 2004-2005), mereka yang tidak memiliki instrumen bahkan buta istilah-istilah musik tetapi memiliki talenta akhirnya dapat membuat musik hanya dengan sebuah komputer di kamar mereka, hal ini mungkin menjadi cikal bakal berdirinya sebuah musik kamar.

apa sih yang diperlukan untuk menjadi musisi kamar? dari segi teknis, sebuah PC/laptop, pentium 4 cukup dengan RAM yang disarankan>512mb, dipersenjatai sebuah perangkat lunak seperti midi sequencer seperti FruityLoops, perangkat lunak rekaman seperti Sonar dan berbagai plug-in tambahan. yang lain? PASSION, TALENT, and TIME!

kenapa passion pertama bukan talent? karena siapapun BISA menjadi bedroom musician tidak terlalu tergantung pada talent, passion juga sangat mungkin mempengaruhi mood dan ide, mungkin hasil akhir yang menentukan apakah talent yang dipunyai apakah memang mampu membuat lagu yang diakui orang (orang lain penting sebagai refleksi dan pengakuan kemampuan kita loh!), selain itu time, hobi ini sangat menguras waktu loh, kita bisa sampai tidak keluar kamar berhari-hari jika tuntutan dari diri adalah menghasilkan musik yang sesempurna mungkin.

bagi saya, musik kamar lebih identik pada proses-proses digital yang merupakan elemen utama yang dibantu oleh peralatan musik ‘nyata’, nyata disini maksudnya entah gitar, kibor, bass, flute, asal jangan kibor komputer dan tetikus.

saya pertama kali mengenal perangkat lunak FruityLoops melalui saudara reza ‘ejot’ prasetyo dan grahat ‘gura’ nagara, teman band saya di Eclipse Harmony, beliau waktu itu mendalami midi sequencer (istilah lain mengurut midi pada perangkat lunak untuk menjadi sebuah musik) dan berhasil membuat saya terpesona dengan lagu-lagu mereka dan membuat saya meminta perangkat lunak tersebut dan dalam waktu yang tidak begitu lama saya sudah berhasil membuat mentahan pertama saya, Inharmonia Indonesia pada tahun 2006 yang menjadi jingle dari Pagelaran Seni Budaya ITB yang pertama pada tahun 2007, ada pada tulisan saya tentang PSB/Inharmonia disini juga.

Sayang FruityLoops yang saya terima hanya berupa demo, jadi file mentah (midi sequence/mapping) inharmonia saya tidak akan disimpan, dan akan hilang begitu saja kalau saya tidak mengekspornya ke dalam bentuk mp3, dan dari mp3 itu saya berusaha mati-matian berbulan-bulan mengulik suara-suara pada lagu itu untuk dipetakan dan diurutkan lagi menjadi file midi setelah saya dapat FruityLoops versi lengkapnya. lagu kedua yang saya buat di FruityLoops adalah Jakarta Electric Rain, dan mixingnya entah mengapa sudah cukup bagus waktu itu.

ok, saya tidak akan berlama-lama membahasnya

Bedroom music/musician, BIASANYA berawal dari hobi dan nafsu (ini yang utama, bahasa inggrisnya passion kali ya?) untuk membuat lagu, bersifat non-komersial dan independent pada awalnya dan tidak menutup kemungkinan untuk berubah haluan menjadi komersial. Biasanya musik-musik ini bersifat idealis, cukup membawa perubahan dalam hidup mereka (hehehehe) dan biasanya yang sampai tingkatan ‘freak’ akan lebih banyak mendengarkan lagu-lagunya sendiri dibandingkan lagu orang lain, makanya ketika ditanya, “eh tau lagu anu dari si anu yang kaya gini ga?”, dia malah ga tau atau ‘kuper’ istilahnya (seperti saya,hohoho). Dari idealisme seperti inilah biasanya muncul sebuah kekuatan melawan arus dari musik-musik industri.

bedroom music memberikan celah tanpa batas yang terbatas untuk eksplorasi, apa maksudnya? sekali lagi idealisme dan kesenangan, musisi ini bisa berkembang lebih jauh daripada musisi industri, mau mengeksplorasi genre apapun terserah, tidak terbatas, mau menulis lirik seperti apapun terserah, tanpa ada tuntutan lain, lalu apakah batasan sebenarnya?? sekali lagi mereka dituntut untuk tetap ‘update’ dengan perkembangan musik di dunia nyata dan maya, lalu batasan selanjutnya adalah instrumen, tidak ada instrumen pada perangkat lunak yang kualitas suaranya mengalahkan instrumen aslinya, mendekati mungkin banyak tergantung instrumen apakah itu.

misalnya untuk gitar, mereka tetap harus melakukan rekaman gitar nilon untuk menghasilkan suara gitar nilon yang sempurna. bagaimana jika alat musik yang dicari adalah shamisen? hahahahaha, hal itu tidak bisa mereka hindari ketika diri mereka, suara hati mereka menuntut, “wah pokoknya ga bisa lain, harus pake shamisen baru nampol!” maka solusi yang mungkin adalah tetap memakai ‘sample'(contoh suara) dari perangkat lunak atau ke jepang, membuka ebay dan lain-lain untuk mewujudkannya dan bagi saya ini adalah sebuah keterbatasan.

contoh bedroom musician yang saya kagumi adalah Jalu Sindentosca salah satunya, beliau telah membuat kira-kira 800 lagu sampai saat ini! dengan gaya independennya yang sangat khas, sundaceltic, memadu komponen sunda dan celtic, keren lah, membuat lirik (lebih tepat disebut bahasa buatan) yang superduper aneh di lagu ‘nu gaunusukni’ (kalo mau tanya artinya langsung ke orangnya, saya juga tidak tahu), masih sangat-sangat banyak contoh bedroom musician yang ada di kos, kamar-kamar kreatif lainnya, mungkin ribuan jumlahnya di bandung ini

sedangkan saya sendiri dari profesi saya sebagai part-time musician dan bedroom musician, baru menghasilkan 50-an lagu dari akhir tahun 2005 sampai sekarang dengan membawa nama musik, Prince Strat (yang kata echa disuruh ganti tapi masih belum nemu nama yang cihuy), membawa eksplorasi berbagai genre dalam setiap lagu-lagu saya, tidak ada yang mirip satu sama lain genrenya. mulai dari akustik lagu tidur, death metal, postrock-etnik, techno-etnik, electronik, bluesrock, ambient, lagu anak-anak, bossanova, swing, gotik, klasik sisilia, etnik indonesia, pop jakarta, celtic-irish, dance, easy listening, fusion, folk, rock n roll, space, dll. kalau mau mendengarkan salah satu contoh lagu saya, ada disini

cukup sampai disini saja dulu, belum ada ide lagi, terimakasih

yow yow mari bermusik!

Advertisements

Read Full Post »