Feeds:
Posts
Comments

Kopi baik

Disclaimer: tulisan ini dibuat oleh saya sebagai sebuah tulisan yang berbau subyektif, dan dituliskan berdasarkan beberapa pengalaman saya belajar seiprit-iprit selama 2 tahun lebih tentang bagaimana secangkir kopi itu harus disajikan dengan baik dan benar agar ia dapat bercerita jujur tentang dirinya. Dan saya masih terus belajar. Jika tulisan ini terlalu panjang, baca saja kesimpulannya di bawah.

 

 

Sebelum memulai, menarik untuk menyimak komentar teman:

“Life is too short to drink bad coffee”

“Gue suka kopi, tapi cuma tau arabika dan robusta, titik”
“Gue cuma tau kopi item, titik”
“Oke, kita sama-sama bego, mari kita riset!”

-Reman & Maryam, awal 2013

“Kopi terbaiknya terkenal di luar negeri, Walahdalah orang Indonesianya malah minum kopi sachetan. Bagaikan ayam yang mati di lumbung padi.”

 

 

Kopi adalah minuman kontroversial yang tak pernah berhenti dibahas dalam dunia medis dan banyak ditampilkan dalam banyak sekali artikel kesehatan, gaya hidup, tradisi, seni budaya, dan lain-lain. Pada mata banyak orang kami (Indonesia) kopi adalah kawan erat rokok, merokok akan lebih sedap jika ditemani kopi, pada mata banyak orang kami, bukan pada mata saya. Pada mata banyak orang kami pulalah tercipta suatu ‘kaba’ turun temurun bahwa kopi (biasanya) haruslah hitam dan pahit. Cara tengok seperti ini banyak diinspirasi oleh fakta asal muasal kopi. Saya ingin sedikit merangkum tentang asal muasal kopi di negeri saya ini.

Kopi di Indonesia banyak disebutkan datang dari Ethiopia, ada pula yang menyebutkan dari India pada abad ke-17 dibawa oleh pemerintah Belanda ke Indonesia. Upaya pembibitan pertama kali berada di tempat yang sekarang bernama Pondok Kopi di Jakarta tahun 1690an, sempat gagal karena terkena banjir, pemerintah Belanda memindahkannya lebih menyebar ke arah Bogor, Sukabumi, Priangan dan sekitarnya. Generasi pertama ini oleh beberapa orang sekarang disebut Kopi Gesha karena asal mula bibitnya dari distrik Gesha di Ethiopia. Dari tempat inilah kopi menyebar ke berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua.

Kopi menjadi andalan ekspor pemerintah Belanda, untuk menyokong berkembangnya permintaan internasional pemerintah Belanda menerapkan sistem cultuurstelsel alias tanam paksa. Arabika menjadi primadona di Eropa, orang Eropa memujanya dengan sebutan ‘a cup of java’, salah satu yang terbaik di dunia. Situasi berkebalikan terjadi di Indonesia, di samping masalah ekonomi, rakyat pribumi tidak dapat menikmati Arabika yang mereka tanam sendiri, Arabika hanya untuk ekspor, pribumi hanya boleh minum kopi kelas dua, Robusta yang lebih pahit. Itupun dalam kebiasaan masyarakat pertanian, demi alasan ekonomi kopi dicampur dengan jagung yang juga disangrai sampai hitam. Disangrai sampai hitam lah yang membuat rasa kopi menjadi pahit. Tapi jangan salah, Robusta juga ada yang enak, asal benar mengolahnya.

 

Menurut saya kopi yang baik itu adalah kopi yang telah melalui proses yang baik. Ada beberapa proses yang sangat penting mulai dari pemilihan bibit sampai terseduh di hadapan kita:

1. Pemilihan bibit, tentu ini awal yang krusial, sortasi bibit baik dan yang kurang baik harus benar-benar diperhatikan.
2. Ketinggian daerah penanaman, kopi Arabika kebanyakan menuntut ketinggian yang lebih dari 1000mdpl agar dapat menghasilkan hasil yang baik.
3. Jenis tanah, saya kurang paham masalah ini tapi saya belum pernah lihat kopi ditanam di daerah batuan kapur.
4. Akses ke cahaya matahari, pohon pelindung dan tanaman penyerta.
5. Pemupukan dan kontrol hama organik, kita tau hasil dari perawatan organik akan lebih baik dari yang sintetik.

 

lalu lanjut ke proses panen, pengeringan dan pengupasan buah dan kulit ari, panen haruslah merata saat buah kopi merah semuanya dan benar-benar harus disortasi untuk mendapatkan kualitas biji yang sempurna. Ada beberapa proses yang bisa dipilih untuk menghasilkan karakter rasa yang berbeda-beda, biasanya terbagi menjadi 3:
1. Natural/honey
2. Semi-washed
3. Full-washed
hasil dari ketiga proses di atas akan menghasilkan biji kopi yang masih berwarna hijau-kuning dan masih mempunyai kadar air yang cukup tinggi (Green beans). Beberapa petani kopi masih kurang memperhatikan masalah misalnya penjemuran dan penyimpanan. Ada yang diletakkan begitu saja di atas tanah dilapisi terpal saat dijemur dan disimpan dalam gudang yang tingkat kelembabannya tinggi sehingga nantinya akan menghasilkan karakter rasa kopi yang ‘beraroma tanah/earthy’. Sebagian kopi Sumatera masih mempunyai karakter ini dengan kadar yang berlebihan sehingga menyembunyikan karakter-karakter ‘menyenangkan’ yang lainnya.

 

Fasa green beans sebenarnya adalah titik dimana kita sudah bisa membeli biji kopi tersebut untuk kemudian kita sangrai, giling dan seduh sendiri. Terlepas dari proses di atas yang sudah dilakukan petani, selanjutnya kita adalah penentu kualitas minuman kopi itu sendiri.

 

 

 

SANGRAI

Sangrai adalah pilihan yang terlalu beresiko untuk dikerjakan sendiri, selain bermahal-mahal ria dengan harga mesin sangrai yang harganya bisa mencapai puluhan sampai ratusan juta dan konsumsi daya listrik yang luar biasa besar (1000watt rata-rata) anda harus sangat sangat sangat berhati dalam proses sangrai ini. Sangrai sendiri pernah saya coba dengan metode manual yaitu dengan kuali alumunium, tanpa minyak dan sendok kayu, sangat sulit, hasilnya tidak bisa rata dan rasa yang dihasilkan hancur. Sang Roaster, tukang sangrai, haruslah seseorang yang ‘devoted’, memiliki hasrat dan habis-habisan mendalami kopi, biasanya itu didapatkan setelah bertahun-tahun belajar kopi. Baru ada dua roaster dengan harga layak yang saya percaya, Hideo Gunawan dari curious people dan Pepeng dari klinik kopi.

Sangrai adalah proses krusial, dimana terjadi pengurangan kadar air dan perubahan beberapa komponen kimiawi di dalam biji kopi. Sangat banyak orang melewatkan begitu saja proses ini, yang penting kopi harus hitam dan itu akan menghasilkan rasa yang pahit dan membunuh karakter kopi begitu saja. Bagi saya, saya akan sangat menghindari minum kopi yang disangrai sampai hitam karena kopi tersebut telah ‘dibunuh’ dan tak dapat berbicara lagi mengenai karakternya.

Ada 3 level hasil sangrai, yaitu muda(blonde), medium(first crack to second crack) dan dark. Hasil sangrai yang sesuai dengan selera saya, yaitu medium dekat-dekat dengan first crack. Apa itu crack? saat kita menyangrai green beans, pada suatu waktu (sekitar 7 menit) kopi akan berubah warna dari hijau menuju keemasan lalu menuju coklat muda dan saat itu biji kopi mulai retak di bagian ujung-ujungnya dan berbunyi ‘krek’, mulai berloncatan seperti pop-corn dalam oven. Selang beberapa menit kemudian akan terjadi second crack, krek kedua yang juga ditandai dengan mulai menggelapnya warna kopi. Jika sudah menghitam, maka buat saya kopi sudah tak layak minum.

 

 

Pilihan terbaik dalam hal ekonomis dan praktis bagi para penikmat kopi adalah membeli biji kopi dalam fasa sudah disangrai. ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam membeli biji kopi hasil sangrai:
1. Siapa yang menyangrainya (subyektif sekali hahaha)
2. Waktu, kopi baik adalah kopi yang baru disangrai sekitar sehari setelah tanggal sangrai sampai dengan 2 minggu.
3. JANGAN BELI KOPI DALAM BENTUK BUBUK, DEMI ALLAH! wkwkwkwk

Poin pertama, siapa. Seperti saya katakan, roaster bukanlah sembarang manusia, ia bisa mengeluarkan secara optimal seperti apakah karakter kopi tersebut. Apakah ada aroma bunga melati, apakah karakter rasanya lebih ke arah buah-buahan seperti berry, leci, apel, nanas, jeruk, lemon, ataukah tembakau, jahe, tomat, cabai, coklat, karamel, gula jawa, dan lain-lain. Ya, saya jujur, kopi baik yang pernah saya minum benar-benar mengeluarkan rasa-rasa seperti itu! Roaster sembarangan belum tentu bisa mengeluarkan rasa seperti itu.

Poin kedua, waktu. Kopi baik berasal dari kopi yang baru disangrai sampai dengan waktu maksimal 2 minggu, setelah itu rasanya akan ‘bapuk’, ‘lapuk’, ga enak dan lain-lain. Indikasinya adalah ‘blooming’, jika biji kopi yang sudah digiling menjadi bubuk kasar lalu disiram air panas (jangan sampai menggenang, cukup basah) maka biji kopi yang baru disangrai akan terlihat bergerak mengembang (blooming). Fenomena blooming ini adalah salah satu indikator yang baik untuk melihat apakah biji kopi baru disangrai ataukah sudah bapuk (lebih dari 2 minggu).

Poin ketiga, BIJI bukan BUBUK. Kenapa mesti beli biji? Karena kopi yang sudah digiling akan secepat kilat kehilangan rasa dan aromanya. Kenapa? karena dengan digiling berarti kita memperluas kontak matriks kopi dengan udara dan melepasnya begitu saja ke udara. Kopi bubuk akan sangat cepat kehilangan kesegaran dan kualitasnya, itu intinya. lagipula dengan membeli kopi dalam bentuk biji kita akan mendapatkan kepastian bahwa kopi yang kita beli tidak dicampur jagung atau apapun.

Setelah kita membeli biji hasil sangrai yang baik, kita harus menyimpannya dalam wadah khusus, yaitu bersifat mengisolasi udara yang masuk tetapi memiliki katup untuk mengeluarkan CO2 dari dalam. Wadah

Belilah dalam jumlah yang cukup agar tidak melewati waktu yang ditentukan (2 minggu setelah sangrai).

 

 

 

Saya akan sedikit menunjukkan kebiasaan saya menyeduh kopi yang menurut saya dapat mengeluarkan karakter si kopi tersebut (kopi baik). Untuk menyeduh kopi yang baik, saya harus punya paling tidak:
1. Penggiling biji kopi (Grinder) WAJIB HUKUMNYA haha
2. French Press/Plunger, saya suka karakter rasa yang dihasilkan, lebih bold, sedikit oily, asamnya keluar jelas.
3. Perebus air
4. Sendok kopi

-Pertama ambil sekitar satu sendok kopi (kira-kira 10-15gram),
-Giling biji kopi, ukuran hasil gilingan sebenarnya tergantung metode penyeduhannya, biasanya saya pakai ukuran gilingan yang sedikit lebih kasar dari gula pasir.
-Rebus air hingga mendidih di perebus air, setelah mendidih bergolak, matikan, tunggu kira-kira 1 menit atau sampai gelembung hilang.
-Letakkan bubuk kopi dalam french press yang kering
-Siram perlahan, sampai terendam semuanya, jangan tergenang, lihat bloomingnya, hirup baunya, tunggu 20-30 detik, siram sampai kira-kira cukup satu cangkir.
-Tutup french press, biarkan terekstraksi sampai 4 menit, jangan lebih.
-Setelah 4 menit tekan perlahan sampai bawah, lalu tuang segera ke cangkir semuanya untuk mencegah over ekstraksi di french press.
-JANGAN BERI GULA PLISPLISPLIS, gula akan merusak rasa unik dari kopi, gula akan merusak karakter kopi.
-minum dalam keadaan masih panas, jangan tunggu dingin, Voila!

Kita akan mendapatkan kopi nikmat, tanpa gulapun tak akan pahit, terutama kopi Sunda Jahe :p

 

 

 

 

Jadi kesimpulannya kopi baik adalah:
1. Kopi murni, arabika (subyektif, bisa robusta dan liberika), spesial, tidak dicampur jagung, bukan kopi pabrikan/komersil/pasaran.
2. Asamnya asam segar, bukan asam khas kopi pabrikan yang bikin lambung melilit atau mencret-mencret seperti gerai kopi internasional yang satu itu.
3. Proses pra tanam, perawatan, dan pasca panennya baik.
4. Tidak hitam dan pahit dan kelihatan bijinya berminyak, roastingnya/sangrainya baik, tidak sampai hitam, coklat muda kurang lebih.
5. Beli dalam bentuk bijian, BUKAN BUBUK dan dalam jangka waktu tidak lebih dari 2 minggu setelah sangrai (ROD, Roasting on demand).
6. Seduh dengan benar, dan jangan beri gula.

Mahal? Tidak.

Satu kantong 250 gram di Anomali hanya 80 ribu, cukup untuk 20 kali minum, sekali minum Rp. 4000. Masih bilang mahal?

 

 

 

Kopi favorit saya? Sunda Jahe (beneran aroma jahe, tanpa rasa pahit), Sunda Gesha (seperti asam apel yg segar dan wangi melati), Aceh Gayo Pantan Musara (leci! kemangi, after taste manis).

Saya masih belajar dan terus mau belajar, mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan tersebut.

 

 

 

Referensi dan keywords:
Cikopi (Jakarta)
Philocoffee (Jakarta)
Maharaja Coffee (Jakarta)
Klinik Kopi (Yogyakarta)
Rumah Kopi Ranin (Bogor)
Anomali Coffee (Jakarta)
AEKI (Jakarta)
Pandava (Jakarta)
Sejumput Kopi Nusantara (Bandung)
Today’s Coffee (Bandung)
Giyanti Coffee & Roastery (Jakarta)
MM Cafe (Malabar Mountain) Bogor

http://justmyhobby.wordpress.com/2013/11/28/jangan-sebut-anda-pencinta-kopi-sebelum-membaca-artikel-ini/
Adi W. Taroepratjeka
Hideo Gunawan
Don Hasman
Reza Suharsa
Shah Rendy
Catur wulan
Sipavarty

Pagi ini saya cukup dikejutkan oleh teman saya yang mendapat kiriman sebuah ransel gunung/kerir dengan merek deuter. Kenapa? karena saya menduga kuat bahwa kerir tersebut tidak asli, alias cemti, alias KW alias *lagi2* ORI MADE IN VIETNAM. #sigh

Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran bahwa melonjaknya peminat deuter akhir-akhir ini membuat merk asal jerman tersebut menaikkan harga deuter disini agar setara dengan harga global setelah sebelumnya harga deuter dibandrol cukup miring. Meningkatnya harga jelas berhubungan dengan meningkatnya produksi deuter (terduga) fake untuk memenuhi kebutuhan kantong penggemar deuter yang ‘berbudget lama’ alias budget yang ada hanya cukup untuk beli deuter pada saat harga sebelum terjadi kenaikan. Ditambah beberapa pendaki pemula begitu terkesima dengan performa deuter sehingga terobsesi untuk memiliki deuter dan tidak tertarik dengan merk lain yang masih harga lama, obsesi buta mungkin, mesti deuter!

Setahu saya deuter memproduksi barang untuk pasar indonesia di vietnam, tentunya dengan QC ketat ala jerman untuk menjamin presisi engineering produknya. Versi (terduga) cemti, KW, fake, atau ori made in vietnam biasanya diproduksi di luar pabrik mungkin dengan bahan-bahan yang sama persis tapi kemungkinan besar tidak melalui QC, sehingga hal paling fatal menurut saya adalah :

Kita tidak membeli ‘engineering’ jerman, melainkan hanya fisik, penampakan, cap deuter dan sejenisnya.

 

Harga kerir (terduga) fake (deuter futura 32) adalah 700 ribu rupiah. Di tandike, harga resminya 1.050.000 rupiah. Teman-teman juga bisa mendeteksi dari ‘anomali’ harga.

berikut akan saya lampirkan foto-foto kecurigaan saya bahwa deuter yang saya temukan pagi ini (deuter merah, futura 32) adalah (terduga) palsu :

1. Jelas, tidak ada kode barang

ImageImage

2. jaring-jaring di punggung, yang (terduga) fake lemes, menempel pada bodi tas, ga tegang seperti yang asli. deuter asli jelas tegang dan memiliki jarak yang jauh (sekitar 2-4cm dari bodi)

ImageImage

Image

3. kelengkungan frame bawah yang kurang. deuter asli (frame putih) sangat lengkung

Image

4. Bahan frame beda, yang asli dr alumunium finishing perak glossy, dibaut oleh baut bulet seperti paku payung. yang (terduga) fake framenya hitam, dibaut asal2an dengan baut tempa kasar

Image

Image

5. sedikit perbedaan di logo yang kasat mata, (terduga) fake fontnya sedikit lebih gemuk mungkin sebab benangnya lebih gemuk, dan kurang rapih. perbedaan yang cukup signifikan ada pada bagian bawah huruf e, yang asli, bersih. sangat sulit memang membedakannya, harus dibandingkan dg deuter asli.

Image

Perbedaan yang bisa diteliti juga ada pada jahitan, perhatikan kerapihan jahitan dan bandingkan dengan pola2 jahitan asli.

Cukup segitu saja dulu cara meneliti deuter, hal ini penting buat teman-teman yang suka merk jerman, mementingkan ke-otentik-an suatu barang dan yang menomorsatukan faktor ‘engineering’ sehingga dana besar yang dikeluarkan tidak membuat hati ngenes.

Dimana mencari deuter asli? setahu saya distributor resmi dan satu-satunya ada di tandike, salah satu cabangnya di mas akleen kaskus

http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000012289185/akleen-outdoor-equipment-deuterlafumavaudetrangiabealpetzlhi-tecdll/

Harga kerir (terduga) fake (deuter futura 32) adalah 700 ribu rupiah. Di tandike, harga resminya 1.050.000 rupiah. Teman-teman juga bisa mendeteksi dari ‘anomali’ harga.

Saya pemakai deuter mulai dari tahun lalu, memiliki dua buah tas deuter, dan kantor saya juga memiliki beberapa kerir deuter, semuanya didapat dari tandike, jadi bisa langsung diteliti.

Semoga informasi ini bisa membantu teman-teman agar berhati-hati membeli barang mahal.

Rucksack Jack Wolfskin Alpine Trail 40 liter adalah kerir kelas kecil-menengah yang diperuntukkan untuk pendakian kelas alpine dimana beban yang ditanggung tidak terlalu berat dan bentuknya cenderung ‘V’ (v-shape) untuk memudahkan pendakian ala pegunungan alpine yang seringkali berurusan dengan rock climbing. Keseimbangan kerir ini terbilang baik, ‘body-roll’ yang biasa dirasakan pada kerir-kerir lokal nyaris tidak terasa disini, dengan berat hanya 1.5kg kerir ini nyaman dipakai untuk UL (ultra-light) hiking. Kompensasinya, bagian-bagian empuk banyak dihilangkan dan bahan tas menjadi lebih tipis dibanding kerir biasa.

Tulisan ini hanya untuk membantu teman-teman yang ingin membeli produk jack wolfskin untuk mengenali seri Alpine Trail 40 liter yang asli-original-otentik, mengingat makin kesini makin banyak beredar kerir jack wolfskin yang ‘ori made in vietnam’.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan made in vietnam, pabrik-pabrik merek top jerman ada di sini, sebut saja deuter, adidas, jack wolfskin dkk. cuma saya pribadi penggemar berat merek-merek jerman dan kudu otentik, merasa ngenes dengan harga cukup tinggi, sebut saja bisa mencapai jutaan rupiah tapi barang yang kita beli ternyata bukan ori walaupun kata sellernya ori made in vietnam.

Barang-barang ‘ori made in vietnam’ ini mungkin saja dibuat di luar pabrik dengan bahan-bahan yang sama dan kualitas yang terlihat sama persis yang sulit dibedakan antara asli atau ‘ori made in vietnam’.

Bedanya apa kalo secara penampakan nyaris sama?

Engineering

Ya, harga mahal yang kita beli adalah segi engineering merek-merek jerman tersebut. Tentang bagaimana barang itu berfungsi baik dengan fitur-fitur yang ditawarkannya, sebut saja back system, rangka, hip belt system, dan lain-lain.

Berikut akan langsung saja saya cantumkan gambar untuk mengenali jack wolfskin asli:

1. Paling vital, di bagian tali pengencang untuk menutup kompartemen utama, kalau ini sudah berbeda dapat dipastikan fake

Image

2. Petunjuk saat darurat, seperti halnya deuter, petunjuk ini tercetak pada bagian dalam head dari si kerir, ga ada ini? bisa jadi fake🙂Image

3. Tali pengencang untuk palu pemecah es, untuk alpine trail 40, bentuk kuncinya harus seperti ini.

Image

4. di kedua sisi hip belt, ada opsional kantong tambahan, bisa dibongkar pasangImage

Image

5. Seperti biasa si peluit oren selalu menemani di strap dada

Image

6. Kuncian khas alpine trail 40Image

7. Terakhir, bagian punggungnya.

Image

tulisan ini dibuat berdasarkan kepemilikan pribadi dan referensi dari:

http://www.kaskus.co.id/post/527762bd18cb17855b000007#post527762bd18cb17855b000007

http://boughil.blogspot.com/2013/03/jack-wolfskin-denali-original-vs-jack.html

Babi dilarang dalam Alquran

Alquran melarang konsumsi babi tidak kurang dari 4 tempat yang berbeda-beda. Hal ini dilarang dalam surat 2:173, 5:3, 6:145 dan 16:115.

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, “ [Al-Qur’an 5:3]

ayat-ayat Al Qur’an di atas cukup untuk memenuhi bagi Muslim mengapa babi diharamkan.

 

Tolong yang jelas-jelas udah ada di kitab suci jangan dibikin becandaan dan jangan digampangkan. Jewish saja amat taat sama soal yg satu ini sampe mereka bela2in bikin produk daging kosher Hebrew National. Jangan sampe kita yang muslim malah ngegampangin firman Tuhan.

2013, beberapa kabar buruk menghampiri saya, rusaknya alam semeru, dan tingkat penurunan populasi edelweiss (Anaphalis Javanica) yang mengkhawatirkan di alun-alun suryakencana dan beberapa gunung lain di indonesia. Hal ini sangat mengusik pikiran saya untuk menulis sebuah tulisan tentang sumbangsih kita demi kelestarian alam.

Mungkin entah karena banyaknya promosi tentang kegiatan alam bebas terutama pendakian gunung baik lewat jambore, film (if you know what i mean), gathering, dan lain sebagainya yang tanpa panduan dasar konservasi yang baik, beberapa kabar buruk tersebut menghampiri kita. Seperti kata mendiang Norman Edwin, “mau kemana pecinta alam indonesia?”.

Banyak yang terbius, euforia, memetik edelweiss sebagai lambang (semu) keabadian cinta (“mendingan lu pada nikah sana, biar tau apa arti kasih sayang” _Basuki T. Purnama (Ahok), 2013.), MENAKLUKAN gunung sebagai simbol kegagahan dan kejantanan, memamerkan cerita dan blablablabla.

Lupakah kita pada kata-kata mendiang Idhan Lubis :

” Aku tidak pernah berniat menaklukan gunung!
Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdian…
… pengabdianku kepada Yang Maha Kuasa! ”
Idhan Lubis, 10 Maret 1969

Ya, mendaki gunung adalah pengabdian kepada Yang Maha Kuasa! oleh karena itu wajib ada suatu pemahaman dasar pada pribadi-pribadi yang akan melakukan pendakian. Saya tidak akan mengurai berbagai macam teori, tetapi lebih kepada pengalaman saya mblasak-mblusuk alam bebas sebagai newbie. Saya juga tidak akan banyak membahas tentang persiapan peralatan, dan fisik karena sudah banyak di mesin pencarian dunia maya.

Here we come! :

Konservasi, apa itu?

http://www.belantaraindonesia.org/2012/12/mengenal-konservasi-alam.html

Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

1. Konservasi adalah menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama ( American Dictionary ).

2. Konservasi adalah alokasi sumber daya alam antar waktu ( generasi ) yang optimal secara sosial ( Randall, 1982 ).

3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan ( IUCN, 1968 ).

4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi – generasi yang akan datang ( WCS, 1980 ). Royal Essays

Kata kuncinya adalah pengelolaan, terbarukan, optimalisasi, pemeliharaan.

Ya, konservasi adalah pemeliharaan, dalam hal pendakian, sejauh mana kah kepedulian kita pada sebuah usaha pemeliharaan alam?

Dalam sebuah pendakian, saya menemukan semak beri hutan https://i0.wp.com/www.ars.usda.gov/images/docs/15552_15746/wild4web.jpg

Dasar saya masih bodoh, beri-beri tersebut saya ambil dengan tamak, jadikan cemilan sepanjang perjalanan, di suatu malam saya berpikir, ini adalah sebuah intervensi jahat saya terhadap rantai makanan, jika saya setamak ini dan pendaki-pendaki lain mempunyai pemikiran yang sama dengan saya, berapa banyak beri hutan yang akan habis? apa yang akan kita sisakan pada burung-burung liar? jika burung-burung tersebut makin berkurang jumlahnya akibat makanan mereka yang kita rampas, hal ini jelas akan merusak keseimbangan alam liar! jumlah hewan lain pun secara berantai akan berkurang! maka selepas peristiwa tersebut, saya ingin mengkampanyekan makanlah apa yang kita bawa, jangan sampai kita tamak merampas makanan penghuni alam bebas tersebut, kecuali kita dalam keadaan kehabisan makanan dan darurat tentunya.

Hal yang sama berlaku untuk edelweiss, cantigi, dan lain-lain, apa kita akan mewarisi edelweiss hanya lewat gambar kepada anak cucu kita? bukankah ia lebih cantik berada di tempatnya? seringkali kita berjalan tidak melihat bibit-bibit edelweiss yang kecil-kecil, sehingga terinjak oleh sepatu-sepatu gagah kita, mereka tidak kita beri kesempatan hidup oleh kelengahan kita. begitu pula dalam mendirikan tenda, usahakan dirikan tenda pada saat masih terang sehingga kita masih sempat meneliti apakah tenda kita menindih dan merusak bibit-bibit edelweiss yang punya hak hidup sama dengan kita.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,

Pasal 21

(1) Setiap orang dilarang untuk :

a. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan
memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau
mati;

b. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati
dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,

KETENTUAN PIDANA

Pasal 40

(1) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

(2) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(3) Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

https://i1.wp.com/p.twimg.com/ArpnWgjCMAAowPK.jpg:large

Begitu pula dengan cantigi, pendaki yang kedinginan kerap menebang kayunya hanya untuk menikmati kehangatan melalui api unggun, banyak pendaki yang berpikiran seperti itu sehingga sangat berbahaya untuk keberlansungan tumbuhan cantik ini.

https://hanifprincestrat.files.wordpress.com/2013/02/cantigi.jpg?w=300

Antisipasi kedinginan? ya bawalah jaket yang banyak, sleeping bag, tenda, selimut survival, dan kompor! ya kompor, saya dengan berhati-hati menyalakan kompor kecil di dalam tenda tertutup selama kurang lebih 5 menit untuk menghangatkan tenda, cukup untuk menghangatkan tubuh sebelum tidur. lakukanlah apapun yang bisa kita lakukan untuk alam.

Prinsip-prinsip konservasi sebenarnya mudah :

– Jangan tinggal apapun kecuali jejak

– Jangan ambil apapun kecuali gambar

– Jangan bunuh apapun kecuali waktu

Tanyakan kepada diri kita sendiri, apa kita rela jika danau sesuci dan sebersih ini tercemari sampah? sabun mandi? sabun cuci? sampo? buang air? sedang air dari danau ini ya itu-itu saja, terperangkap bertahun-tahun disana. akankah kita wariskan kepada teman-teman, anak-cucu kita air yang tercemar ke-masa-bodoh-an kita? masih berani kah kita egois akan ciptaan Tuhan secantik ini?

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/bd/Ranu_kumbolo.jpg

jangan pernah membawa sabun, deterjen dan bahan kimia sejenisnya ke alam bebas, kita bisa pakai hand sanitizer dan sejenisnya, selama melakukan pendakian semeru, selama 4 hari saya tidak buang air besar, jika ada teman yang tak tahan, maka saya menghimbau untuk menghindari sumber air, menghindari jalan setapak, menggali tanah untuk BAB dengan sekop kecil agar tak terinjak teman-teman kita yang lain. sayangilah alam, maka alam akan membalasmu dengan seribu kebaikan.

Sekarang mengenai sampah, terutama sampah plastik, prinsip utama adalah bawalah pulang kembali sampah yang kita hasilkan di alam liar! dengan ini jelas bahwa kita akan mengurangi sampah di gunung. sudah ada beberapa penggiat gunung bukan tempat sampah seperti kawan-kawan dari trashbagcommunity yang sangat concern terhadap usaha sterilisasi gunung dari sampah.

Tips lain untuk me-manage sampah dengan baik adalah sebelum pendakian hendaknya kita membeli kemasan sachet besar untuk minuman ketimbang sachet kecil yang akan menghasilkan banyak sampah. untuk misalnya mie instan atau makanan lain seperti biskuit/roti kita bisa membuka kemasannya dan menyatukannya dalam wadah besar yang bisa digunakan berulang-ulang seperti kotak makan. hindari membawa air minum wadah gelas yang juga dapat menghasilkan sampah yang banyak. bawalah botol minum besar, bisa 500-1500 liter, isi dari rumah.

Selain itu penulis berpesan agar segala sesuatu kita niatkan dengan baik, alam akan memberimu seribu kebaikan, niatkan pendakian hanya untuk pengabdian kepadaNya. bawa peralatan yang baik dan lengkap, jangan pernah meremehkan alam, lakukan manajemen rute, manajemen perbekalan, manajemen air, manajemen pengolahan makanan, manajemen sampah dan manajemen konservasi.

Tulisan ini adalah hutang kepada ‘bapak’ saya, teman saya, guru saya,

Don Hasman,

penjelajah dan fotografer legendaris dunia,

semoga tulisan ini mampu menyumbangkan sesuatu bagi teman-teman yang akan melakukan pendakian, kita masih sama-sama belajar, jangan pernah berhenti untuk belajar. ada link menarik tentang konservasi yang juga bisa dilihat di sini http://www.belantaraindonesia.org/search/label/konservasi

Maaf copas lagi, tp tulisan ini terlalu bagus untuk disimpan sendiri, enjoy :

Kiai Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang tadi siang diwisuda.

“Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat. Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap. Pada masa itu pula tak ada sesuatu pun dalam kehidupan yang dipuja orang melebihi kebudayaan barat sehingga terkadang ia melebihi Tuhan”.

“Ini kisah aneh apa lagi?” bertanya sang cucu.

“Kaum Muslim pada waktu itu sedang mencapai puncak semangatnya untuk memperjuangkan agamanya, menemukan identitas dan bentukan kebudayaannya sendiri”, si kakek melanjutkan, “akan dipandanglah kebudayaan barat itu oleh mereka dengan penuh rasa najis, serta dipakailah barang-barang kebudayaan barat itu dengan penuh rasa sayang dan kebanggan”.

“Lagi-lagi soal kemunafikan!”

“Tak penting benar soal kemunafikan itu dalam kisah ini”, jawab Kiai Sudrun,

“Setidak-tidaknya engkah sudah paham persis masalah itu, dan lagi yang hendak aku ceritakan kepadamu adalah soal lain”.

Sang cucu diam mendengarkan.

“Kaum Muslim pada waktu itu mempertentangkan Islam dengan kebudayaan barat seperti mempertentangkan cahaya dengan kegelapan atau malaikat dengan setan. Padahal sampai batas tertentu, para pelaku kebudayaan barat itu sendirilah yang dengan ketekunan amat tinggi melaksanakan ajaran Islam”.

“Kakek sembrono, ah”.

“Tak ada yang melebihi mereka dalam melaksanakan kewajiban Iqra’, meskipun kemudian disusul oleh sebagian bangsa-bangsa tetangganya. Tak ada yang melebihi mereka dalam kesungguhan menggali rahasia ilmu dan mengungkap kemampuan-kemampuan alam. Mereka telah membawa seluruh umat manusia memasuki keajaiban demi keajaiban. Mereka mengantarkan manusia untuk mencapai jarak tertentu dalam waktu satu jam sesudah pada abad sebelumnya mereka memerlukan perjalanan berbulan-bulan lamanya. Mereka mempersembahkan kepada telinga dan mata manusia berita dan pemandangan dari balik dunia yang berlangsung saat itu juga. Mereka telah memberi suluh kepada pengetahuan manusia untuk mengetahui yang lebih besar dari galaksi serta yang sejuta kali lebih lembut dari debu”.

“Dimuliakan Allahlah mereka”, sahut sang cucu.

“Benar”, jawab kakeknya, “kalau saja mereka meletakkan hasil Iqra’ itu di dalam kerangka bismi rabbikalladzi khalaq. Seandainya saja mereka mempersembahkan ilmu dan teknologi itu untuk menciptakan tata hidup yang menyembah Allah. Seandainya saja mereka merekayasa kedahsyatan itu tidak untuk penekanan dalam politik, pemerasan dalam ekonomi, sakit jiwa dalam kebudayaan, serta kemudian kebuntuan dan keterpencilan dalam peradaban”.

“Apa rupanya yang mereka lakukan?”

“Memelihara peperangan, mendirikan berhala yang tak mereka ketahui sebagai berhala, menumpuk barang-barang yang sesungguhnya tak mereka perlukan, pura-pura menyembah tuhan dan bersenggama dengan binatang”.

“Anjing kurap!” teriak sang cucu.

“Memang demikian sebagian dari Kaum Muslim, memaki-maki, tapi kebanyakan dari mereka bergabung menjadi pelaku dari pembangunan yang mengarah kepada kebudayaan yang semacam itu.”

“Munafik!” sang cucu berteriak lagi.

“Menjadi seperti kau inilah sebagian dari Kaum Muslim di masa itu. Dari sekian cakrawala ilmu anugerah Allah mereka mengembangkan satu saja, yakni kemampuan untuk mengutuk dan menghardik. Tetapi kemudian karena tak ada sesuatu pun yang berubah oleh kutukan dan hardikan, maka mereka pun pergi memencilkan diri; melarikan diri ke dalam hutan sunyi, mendirikan kampung-kampung sendiri — di pelosok belantara atau di dalam relung kejiwaan mereka sendiri. Mereka menjadi bala tentara yang lari terbirit-birit meninggalkan medan untuk menciptakan dunianya sendiri. Mereka ini mungkin kau sebut kerdil, tetapi sesungguhnya itu masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang lain yang selalu berteriak sinis “Kalian sok suci!” atau “Kami tak mau munafik!” sementara yang mereka lakukan sungguh-sungguh adalah kekufuran perilaku dan pilihan. Namun demikian tetaplah Allah Maha Besar dan Maha Adil, karena tetap pula di antara kedua kaum itu dikehendakiNya hamba-hamba yang mencoba merintis perlawanan di tengah medan perang. Mereka menatap ketertinggalan mereka dengan mata jernih. Mereka ber-iqra’, membaca keadaan, menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesanggupan mengolah sejarah, sambil diletakkannya semua itu dalam bismi rabbi. Ilmu ditimba dengan kesadaran dan ketakjuban Ilahiyah. Teknologi ditaruh sebagai batu-bata kebudayaan yang bersujud kepada Allah”.

“Maka lahirlah makhluk baru di dalam diri Kaum Muslim”, berkata Kiai Sudrun selanjutnya, “Gerakan intelektual. Orang dari luar menyebutnya intelektualisme-transendental atau intelektualisme-religius, meskipun Kaum Muslim sendiri menyebutnya gerakan intelektual — itu saja — sebab intelektualitas dan intelektualisme Islam pastilah religius dan transendental”.

“Dongeng kakek menjadi kering….” sahut sang cucu.

“Itu iqra’ namanya. Gerakan iqra’ yang ketiga sesudah yang dilakukan oleh Muhammad dan kemudian para ilmuwan Islam yang kau ketahui menjadi sumber pengembangan kebudayaan barat”.

Sang cucu tak memrotes lagi.

“Akan tetapi mereka, Kaum Muslim itu, adalah — kata Tuhan — orang-orang yang berselimut. Mudatstsirun. Orang-orang yang hidupnya diselimuti oleh berbagai kekuatan tak bismi rabbi dari luar dan dari dalam diri mereka sendiri. Selimut itu membuat tubuh mereka terbungkus dan tak leluasa, membuat kaki dan tangan mereka sukar bergerak, serta membuat hidung mereka tak bisa bernafas dengan lega.”

Sang cucu tersenyum.

“Kepada manusia dalam keadaan terselimut itulah Allah berfirman qum! Berdirilah. Tegaklah. Mandirilah. Lepaskan diri dari ketergantungan dan ketertindihan. Untuk tiba ke tahap mandiri, seseorang harus keluar terlebih dahulu dari selimut. Ia tak akan bisa berdiri sendiri bila terus saja membiarkan diri terbungkus kaki tangannya serta terbungkam mulutnya.”

Sang cucu tersenyum lebih lebar.

“Firman berikutnya adalah fa-andzir! Berilah peringatan. Lontarkan kritik, teguran, saran, anjuran. Ciptakan kekuatan untuk mengontrol segala sesuatu yang wajib dikontrol.” Sampai di sini Kiai Sudrun tiba-tiba tertawa cekikikan, “Syarat untuk sanggup memberi peringatan ialah kemampuan untuk mandiri. Syarat untuk mandiri ialah terlebih dahulu keluar dari selimut. Namun pada masa itu, cucuku, betapa banyak nenek moyangmu yang tak memperhatikan syarat ini. Mereka melawan kekuasaan padahal belum bisa berdiri tegak. Mereka mencoba berdiri padahal masih terbungkus dalam selimut….” Tertawa Kiai Sudrun makin menjadi-jadi.

Disusul kemudian oleh suara tertawa cucunya, “Kakek luar biasa!” katanya, “Kakek memang cerdas luar biasa!”

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Sudrun di tengah derai tawanya.

“Kakek menirukan hampir persis segala yang kuceritakan kepada kakek tadi malam dari buku-buku kuliahku”.

Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

1987 Emha Ainun Nadjib

#gelovephysics

Geophysicist said : cinta itu membumi,

Meteorologist said : cinta itu selangit rasanya,

Oseanographist said : cinta itu sederas arus laut.

sumber gambar  : http://www.tjhsst.edu/~jlafever/wanimate/Wave_Properties2.html

welcome to the gelovephysics, kumpulan judul paper-paper ngawur dan twit-twit yang berisi pemahaman (meta)fisis gelombang cinta yang merambat pada permukaan hati.

gelo : gila

love : cinta

gelovephysics : pemahaman (meta)fisis gelombang cinta yang merambat pada permukaan hati.

1. Modeling love wave propagation with finite difference to reduce runtime until married and to obtain optimal sexmic result #gelovephysics

2. Survey panashati dengan metoda rotational tensor impedance, modified jacobian matrix dari data lapangan magnelovetellurik #gelovephysics

3. Deblending hati dg pendekatan finite difference dan axis-transformation terhadap calon mertua #gelovephysics

4. Delineasi struktur bawah permukaan hati dengan metoda PSTM, Pre-Stack Time to Move on #gelovephysics

5. Di kimia ada organik dan anorganik, di geofisik ada isotropi dan anisotropi, di #gelovephysics ada hepi dan anhepi

6. Fast randomized full love wave inversion sbg input untuk avo (Aku Versus Orangtuamu) with sensitive sensing dan roti buaya #gelovephysics

7. Modified gauss newton formulation as input to fast SHAKESPEARE transform to obtain love effort domain from science domain #gelovephysics

8. Application of jealousness deconvolution to increase quality of relationship resolution between us #gelovephysics

9. Comparation of NMO (normal move on) and GMO (galau move on) based on relationship between unmuted gather and untold love #gelovephysics

nanti diupdate lagi twit2 ngawurnya haha