Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2010

islam adalah penyerahan diri, keikhlasan terhadap agama yang sudah sempurna. lalu apakah kita mesti pasrah menerima semua yang ada dalam al-qur’an dan al-hadits? bukankah kita adalah manusia yang diberi akal oleh Allah SWT untuk berpikir?

sebagai manusia, kita hidup dengan profesi masing-masing, spesialisasi masing-masing, yang dimana tidaklah mungkin kita mendalami semua ilmu dengan spesifik, mungkin ada beberapa contoh manusia seperti pak jaya suprana yang sangat baik di berbagai bidang tetapi kenyataannya bahwa beliau tidak dapat mendalami ilmu-ilmu yang dalam seperti ilmu bedah jantung. nah untuk itulah ada seorang ‘penjaga’ islam yang tugasnya belajar islam, mulai dari belajar bahasa Al-Qur’an (bukan bahasa arab biasa karena bahasa arab biasa ternyata berbeda tingkatannya dengan bahasa Al-Qur’an), ilmu tafsir, ilmu fiqh, ilmu mu’amalah, dan berbagai ilmu lainnya yang saya kira sama dalamnya dengan ilmu bedah jantung atau justru lebih sulit. Penjaga itu disebut ulama.

fenomena yang terjadi sekarang ini adalah kepercayaan umat yang saat ini semakin menipis, seiring dengan budaya populer yang dihembuskan media-media sekuler orientalis liberalis, terutama isu-isu tentang fatwa yang dikeluarkan ulama selalu mendapat pertentangan baik dari umat islam maupun non-muslim.

(saya tidak habis pikir apa urusan mereka mencampuri fatwa ulama kita, contoh nyata pada saat salah satu artis ‘d**’ terikut arus mengolok-olok fatwa MUI di twitter dengan trending topics #tolakfatwaMUI dan sayapun bereaksi keras langsung kepadanya terkait dia non-muslim dan dia adalah figur publik yang notabene perbuatannya akan diikuti oleh penggemarnya, akhirnya setelah mendapat nada-nada serupa seperti saya, dia meminta maaf dan menghentikan perbuatannya)

seperti saya ceritakan diatas, bahwa ilmu agama islam itu adalah spesifik, untuk membedah dan menelaah isinya kita harus melalui proses-proses pembelajaran yang panjang. Mengkritisinya tanpa melalui tahapan-tahapan tersebut adalah perbuatan ngawur dan dapat dicurigai ingin mengacak-acak agama islam.

belajarnya pun tidak tanggung-tanggung, langsung ke tempat pusat ilmu agama islam, yaitu di timur tengah, seperti di madinah, makkah, kairo, dan lain lain. lucu misalkan ada orang belajar agama islam, kita tanya dimana? oh saya lulusan ilmu agama islam di amerika serikat. Sama saja saya ikut kuliah perhotelan di kampus ITB. belajar sesuatu ilmu yang tidak pada tempatnya atau lebih enak disebut kurang tepat, tentunya akan menghasilkan orang yang kurang paham akan dasar-dasar ilmunya. contoh si A belajar ilmu bedah jantung di jurusan biomedik elektro ITB, tentulah akan sangat berbahaya jika si A ini benar-benar menjadi dokter bedah jantung walaupun jurusannya biomedik.

sama seperti agama islam, seorang awam, belajar entah itu filsafat, hermeneutika, perbandingan agama, teologi, dan lain-lain, dan misalkan di amerika atau inggris. tentu akan sangat berbahaya apabila ia menjadi ulama! sesuatu yang diputuskan, di’fatwa’kan si orang ‘awam’ tersebut jika kemudian menjadi benar, maka itu hanyalah sebuah kebetulan belaka dan berpotensi menjadi sesuatu yang bid’ah dan menghalalkan yang diharamkan, seperti di twitter lagi, ulil abshar abdalla (www.twitter.com/ulil), seorang aktivis jaringan yang ia sebut jaringan islam liberal, mempermasalahkan pengaharaman tato, dan ia mengemukakan berbagai macam pemikiran dalam twit-twitnya, dan pengikutnya di twitter pun banyak yang akhirnya terpengaruh dan mendukung pemikirannya (karena bagi saya jelas, dosa itu enak). ini jelas membahayakan bagi umat, seorang ‘awam’ yang bermain-main dalam agama islam ini dapat merusak umat.

ulama ibarat seorang dokter spesialis, saat kita ke dokter spesialis untuk berobat, dan kita pasrah dan berserah diri kepadanya, mengapa kita tidak berserah diri kepada ulama? dan memilih berserah diri kepada orang ‘awam’?? mau lebih bersikap cerdas? gampang, cari second opinion, cari dokter lain, cari ulama lain yang mungkin berbeda madzhab imam haditsnya.

nb: kepada teman-teman yang peduli akan dakwah islam, mari kita perbaharui cara kita berdakwah, mungkin tulisan saya disini masih sangat-sangat dangkal. tapi coba ke depannya kita giat berdakwah, ‘menjemput bola’ dengan melemparkan pemikiran-pemikiran dakwah kita melalui fasilitas umum seperti twitter yang saya kira cukup efektif yang mana mas ulil telah membuktikannya, mari rajin kita sapa teman-teman kita yang mungkin jarang mengunjungi masjid seperti saya ini, jarang mengunjungi forum, jarang menghadiri kegiatan keagamaan, janganlah mereka dianggap kaum yang berbeda, berangkatlah pergi dari masjid, mushola, mimbar, kelas, ataupun kamar kos kita. bukankah agama kita adalah agama sosialis yang mengajak masuk surga ramai-ramai? bukan masuk surga sendiri? 🙂

Advertisements

Read Full Post »

tapi kok,

metikin edelweiss?

buang air di sungai?

merokok dan buang puntungnya di hutan?

nangkapin binatang liar?

bawa pulang tanaman hutan?

???

Read Full Post »