Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2010

Reog pertama kali diciptakan oleh Ki Ageng Kuthu. Reog ini bernuansa satirik yang merupakan potret karikatural jawa saat itu. Ki Ageng Puthu adalah seorang pujangga anom (setara patih) Majapahit, bernama asli ki ktut surya alam yang merasa kecewa dg raja majapahit pada waktu itu, Bhree Kertabumi
yang lebih mengikuti suara istrinya yang berdarah cina dan muslimah, sedang Ki Kuthu adalah seorang penganjur budha. Lalu ia menyingkir ke Wengker (sekarang Panaraga) mendirikan Paguron Olahkanuragan, yang merupakan perguruan olah kebatinan.

Lalu disini ia menciptakan Reog, topeng singa (singabarong) menggambarkan raja yang angkara murka namun ia dikendalikan oleh burung merak yang dibiarkan duduk diatas kepalanya (menggambarkan kendali istrinya yang cantik atas sang raja), irama terompet pelog terkesan sumbang diantara bunyi tetabuh lain yang berlaras slendro dimaksudkan untuk menggambarkan suara sumbang atau kritik yang sang patih sampaikan. Patih/pujangga anom, yang digambarkan sebagai ganongan, menari mengejek2 singabarong sehingga singabarong marah.

Reog ki kuthu bertentangan dengan islam karena sang warok dalam kelompok ini tidak boleh menikah, tetapi untuk menyalurkan hasrat biologisnya mereka diperbolehkan gemblak/homoseks, selain itu juga ada ritual lain yg menjadi ibadah pada reog itu sendiri. Dan budaya minum-minuman keras seperti tuak dan ciu sangat kental pada pertunjukan ini.

Raja Majapahit, Bhree Kertabumi tak tinggal diam ia mengutus anaknya Raden Katong untuk melacak Ki Kuthu di wengker, lalu Raden Katong singgah di Bintara, sebuah kadipaten yang dipimpin Raden Patah yang beragama islam. Ia adalah anak dari istri Bhree Kertabhumi yang berdarah cina dan muslimah. Oleh ajakan Raden Patah, akhirnya Raden Katong memeluk islam, akhirnya Raden Katong berhasil membunuh Ki Kuthu dengan bantuan Ki Gede Serah Mirah, seorang ulama. Ki Gede Serah Mirah inilah yang akhirnya mengubah satire Reog Ponorogo menjadi satu fragmen lengkap dengan menampilkan lakon Panji dan Jenggalamanik. Pemeran-pemerannya tak lagi hanya singabarong, jathilan, dan bujangganong, tetapi mulai dimasukkan tokoh kelana sewandana, panji, tethek melek dan tledhek jepre. Reog Ki Kuthu merupakan sindiran karena itu tidak ada lakon di dalamnya.

Naaaah, dalam masa sebelum perang Diponegoro, ganongan adalah sosok yang ditunggu2 rakyat, menggerakkan kesadaran beragama umat islam yang pada waktu itu masih identik dengan reog versi ki kuthu, yaitu pengaruh minuman keras dan homoseks. Selain itu untuk membangkitkan kesadaran Sultan Mataram (Ngayoyakarta , Surakarta atau Pakualaman, Mangkunegaran, dan Kadipaten Serang) akan bahaya dari kendali kompeni belanda yang meninabobokan mereka dengan kemilau harta dan kekuasaan semu, lalu menyengsarakan rakyat dengan menyewakan tanah kepada kompeni belanda. Belanda memaksa rakyat untuk bertanam rempah-rempah guna mengisi kas kerajaan belanda yang kosong akibat kekalahan mereka pada perang eropa, sehingga rakyat menderita dan selalu muncul letupan-letupan kecil. Hal ini dimanfaatkan kompeni belanda untuk seolah-olah ‘membantu’ stabilitas keamanan dengan memadamkan pemberontakan-pemberontakan tersebut, dari ‘jasa’ tersebut, kompeni belanda mengadakan perjanjian-perjanjian dengan Kerajaan Mataram yang pada akhirnya mengerdilkan kekuasaan Kerajaan Mataram atas tanahnya sendiri dan memecah belah Kerajaan Mataram menjadi 4 kesultanan yaitu Ngayoyakarta , Surakarta atau Pakualaman, Mangkunegaran, dan Kadipaten Serang.

Filosofi yang penting dari ganongan adalah, kita boleh mengkritik tetapi bukan memberontak, itulah sebab ganongan tidak bertempur dengan singabarong tetapi hanya memancing dan mengkritik.

Naaaaahhh inti dari filosofi Reog di Mataram waktu sebelum Perang Diponegoro adalah seorang khalifah (sultan) harus dilawan apabila ia mulai keluar dari ajaran islam, sebelum ada hal yang membatalkan dari kemusliman dan kekhalifahannya maka sejauh itu kita diperintahkan taat walaupun kita tidak suka.

Dirangkum dari novel sejarah Tanah Retak, karya Sakti Wibowo

Semoga Bermanfaat

Advertisements

Read Full Post »